Wird Toreqah Syadziliyyah Darqawiyyah

💎 *NGAJI SIROH NABAWIYAH* 💎

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*
(Ketua Umum Ulama'ul Ka'bah Pusat)

*Hijrah ke Kota Thoif*

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke kota Thoif, beliau mendatangi pemimpin-pemimpin kabilah Tsaqif, akan tetapi mereka tidak mau mendengarkan ajakan Nabi ﷺ, justru mereka menolaknya dengan penolakan yang jelek. Akhirnya Rasulullah ﷺ meninggalkan mereka sambil mengharapkan supaya mereka tidak menyebarkan berita kedatangannya ke Thoif kepada orang Quraisy. Mereka tidak merespon Permintaan Nabi ﷺ, justru memerintahkan budak-budak mereka untuk mencemooh Nabi ﷺ dan melemparinya dengan batu, hingga kedua kaki Rasulullah ﷺ berdarah. Sahabat Zaid bin Haritsah, satu-satunya orang yang menyertai Nabi ﷺ saat itu, berusaha menghadang hantaman mereka sehingga kepalanya mendapatkan banyak luka.

Sesampainya Nabi ﷺ ke perkebunan milik Utbah bin Robiah, orang-orang thoif kembali ke rumah masing-masing. Nabi ﷺ beristirahat di bawah pohon anggur, lalu nabi menadahkan wajahnya ke langit sambil berdoa,

_"Wahai Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya usahaku, rendahnya diriku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Belas Kasih, Engkau adalah Tuhan orang-orang lemah, Engkau adalah Tuhanku, kepada siapa Engkau memasrahkan ku? Apakah kepada orang jauh yang menyerangku atau engkau pasrahkan diriku kepada musuh musuhku? Kalau Engkau tidak murka kepadaku maka aku tidak peduli, akan tetapi kerahmatan-Mu lebih luas untukku. Aku berlindung dengan Nur Wajah-Mu yang menerangi kegelapan, dan yang membuat baik perkara dunia dan akhirat. Aku berlindung dari turunnya murka-Mu atau turunnya laknat-Mu. Engkau boleh mencaci kepadaku sehingga Engkau Ridho kepadaku. Tidak ada usaha dan kekuatan kecuali dengan restu-Mu"._

*Pelajaran yang Dapat Dipetik*

Semua hal yang menimpa Nabi Muhammad ﷺ, berupa cobaan dan siksaan dari orang-orang Thoif ini adalah salah satu bentuk suri tauladan kesabaran yang diperlihatkan Nabi ﷺ kepada ummatnya.

Nabi ﷺ selain memerintahkan kita untuk mengikutinya dalam 'Aqidah, Ibadah, Akhlaq, dan Muamalah, begitu juga Nabi ﷺ memberikan suri tauladan dan memerintahkan kepada kita untuk bersabar serta menerangkan "bagaimana kesabaran itu dipraktekkan dalam dunia nyata", kesabaran yang diperintahkan oleh Allah ﷻ,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

_"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung"_. QS. Ali Imron: 200.

Nabi ﷺ mengatakan, _"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat". _"Ambillah dariku cara-cara untuk beribadah haji"._
Seolah-olah Nabi ﷺ ingin mengatakan, “Ambillah dariku cara-cara untuk bersabar".

Rasulullah ﷺ menghadapi cobaan-cobaan yang diterima dari orang-orang Thoif dengan ridlo, ikhlas, dan hanya mengharapkan  balasan dari Allah ﷻ. Sebetulnya jika Nabi ﷺ berkenan untuk membalas dendam kepada orang-orang Thoif alangkah mudahnya beliau membalasnya. Akan tetapi beliau tidak menghendaki.

Nabi ﷺ menceritakan bahwasanya beliau dikejar-kejar oleh orang-orang Thoif sehingga sampai di tempat Qarn Tsa'alib, lalu beliau mengangkat kepalanya dan di situ ada Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat Penjaga Gunung mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dan mengatakan, _"Saya adalah Malaikat Penjaga Gunung, Tuhan Paduka Nabi memerintahkan saya untuk mengikuti semua perintah Engkau, lalu apa yang Paduka Nabi kehendaki? Bila Paduka Nabi menghendaki aku menjatuhkan dua gunung ini kepada mereka, maka aku akan ikuti perintahmu"._ Nabi ﷺ bersabda, _"Jangan begitu, tapi aku berharap kepada Allah, agar mengeluarkan dari punggung orang tua mereka, orang-orang yang menyembah kepada Allah saja tidak mensekutukan dengan sesuatu apapun"._

_Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammadin wa 'ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallam_

*Disampaikan pada kegiatan Ngaji Selapanan DPC PPP Purworejo dan Kebumen.

*SAMBUTAN KH WAFI MAIMOEN (KETUA DPW PPP JATENG) DI MUSCAB PPP BLORA DAN PURWODADI* Muscab ini dilakukan pada bulan Shofar. Bulan Muharram, Shofar, dan Robi'ul Awwal adalah bulan dimana Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Ada beberapa pelajaran dari perjalanan hijrah Nabi ﷺ yang perlu kami sampaikan pada pertemuan ini. Hal pertama yang dilakukan Nabi ﷺ di Madinah adalah membangun Masjid, kemudian mempersaudarakan antar ummat Islam, dan yang terakhir adalah menyusun undang-undang negara atau Piagam Madinah. *1. Membangun Masjid* Ini sangat penting untuk mengembalikan pusat perjuangan kita ke dalam Masjid. Untuk itu kami harapkan semua pengurus DPW, DPC, dan PAC, semuanya harus selalu datang ke Masjid untuk melakukan sholat berjama'ah. Di Blora ini saya sangat mengharapkan agar rutinan selapanan yang sudah berjalan di Masjid Agung Blora, diikuti semua unsur DPC dan PAC. Ini penting, karena ini momentum kita untuk datang ke Masjid Agung bersama dengan pemerintahan Blora, yang -alhamdulillah- kita bisa memenangkan kompetisi dalam pemilihan Kepala Daerah kemarin. *2. Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan antara umat Islam)* Ini persaudaraan nomor wahid dan segala-galanya, bukan seperti orang sekarang yang mengatakan bahwa _ukhuwah watoniyyah_ dan _basyariah_ itu di sejajarkan dengan _ukhuwwah Islamiyah_. Tidak bisa disejajarkan!!! _Ukhuwwah Islamiyyah_ adalah jauh diatas jenis persaudaraan yang lain. *3. Udang-undang negara atau yang terkenal dengan Piagam Madinah* Di sini perlu saya sebutkan bahwasanya termasuk undang-undang atau piagam madinah itu berbunyi, _"Ketika orang yang menyepakati perjanjian di piagam ini ada pertentangan atau permasalahan, maka harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya"._ Ini menunjukan bahwasanya pimpinan itu harus dipegang oleh orang Islam, tidak boleh diberikan kepada yang lain. Sukses untuk Blora dan Purwodadi..!!!! _Wallahu A'lam Bisshowab, Alhamdulillahi Robbil 'Aalamiin_

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 83*

ﺍﻷَﻛْﻮﺍﻥُ ﻇﺎﻫِﺮُﻫﺎ ﻏِﺮَّﺓٌ ﻭَﺑﺎﻃِﻨُﻬﺎ ﻋِﺒْﺮَﺓٌ . ﻓَﺎﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺗَﻨْﻈُﺮُ ﺇﻟﻰ ﻇﺎﻫِﺮِ ﻏِﺮَّﺗِﻬﺎ، ﻭَﺍﻟﻘَﻠْﺐُ ﻳَﻨْﻈُﺮُ ﺇﻟﻰ ﺑﺎﻃِﻦِ ﻋِﺒْﺮَﺗِﻬﺎ .

Artinya:
Alam dunia ini pada lahirnya merupakan tipuan, dan batinnya adalah pelajaran. Nafsu memandang pada tipuan lahiriyahnya, sementara qolbu memandang kepada pelajaran yang tersimpan di dalamnya (batin).

*_Syarh:_*

🏅 Nafsu itu hidupnya dengan "zaman sekarang", dia tidak memandang zaman yang akan datang dan tidak memandang hubungan zaman sekarang dengan zaman yang akan datang. Ketika dia mendapatkan kenikmatan, dia akan menikmatinya dan tidak menghubungkan atau memikirkan akibatnya di masa yang akan datang.

🏅 Qolbu selalu memandang zaman sekarang untuk mendapatkan kenikmatan pada zaman yang akan datang. Dia memandang kenikmatan dunia ini dengan pandangan yang jauh ke masa depan.

🏅 Ketika manusia Memandang dunia dengan pandangan “zaman sekarang“ maka dunia akan menjadi besar dan segala-galanya.

🏅 Ketika manusia memandang dunia dengan pandangan "zaman yang akan datang" maka dunia ini rasanya kecil dan tidak ada apa-apanya.

Sahabat Al Harits bin Malik Al Ansori RA  suatu hari ditanya oleh Nabi SAW,

"Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai Harits?"

Harits menjawab,"Pagi ini imanku sempurna wahai Baginda Rasul.

"Lihat Perkataanmu ini wahai Harits!! Setiap sesuatu itu ada tandanya. Lalu apa tanda imanmu?"

"Hidupku sudah tidak di dunia lagi, saya selalu bangun di malam hari, dan berpuasa di siang hari, sepertinya saya melihat 'Arsy Tuhanku, sepertinya aku melihat penduduk surga mendapatkan kenikmatan, dan sepertinya saya melihat penduduk neraka sama disiksa".

Rasulullah bersabda, "Orang ini hambanya Allah yang hatinya dipenuhi oleh Nur".

Wallahu A'lam

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 84*

اذا اَرَدتَ اَنْ يَكُونَ لكَ عِزًّ لاَ يَفْنىَ فَلاَ تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يُفـْنىٰ

Artinya:
"Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yang tidak punah/rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yang rusak".

*_Syarh:_*

🔷 Ketika engkau mempunyai harta yang banyak maka engkau akan merasa kemuliaanmu ada dalam kekayaanmu. Ketahuilah bahwa harta yang diberikan oleh Allah kepadamu sebentar lagi akan hilang, dia datang karena qadla' dan qadar-Nya, begitu juga dia akan hilang dengan Qadla' Qadar-Nya.

🔷 Ketika engkau mendapatkan jabatan dan pangkat maka engkau akan menjadikannya sebagai lambang kemuliaanmu. Ketahuilah bahwa Allah yang memberikan jabatan padamu sebentar lagi akan mengambilnya darimu.

🔷 Ketika engkau mempunyai kekuatan yang tidak terkalahkan atau kecerdasan yang sangat maka engkau akan merasa terlindungi dari marabahaya. Ketahuilah bahwa Allah yang mengeluarkan kamu ke dunia ini dengan tanpa mempunyai kekuatan dan kecerdasan sebentar lagi akan menjadikan kamu keringkihan dalam masa tuamu.

ومنكم من يرد الى أرذل العمر لكي لا يعلم بعد علم شيئا.

✅ Orang yang ingin mendapatkan kemuliaan dari selain Allah itu seperti orang yang berpegangan pada dahan dan ranting, pasti tidak akan kuat menyangga tubuhnya. Kalau saja dia itu pintar dan berpikir dengan baik maka dia akan berpegangan pada batang pohon bukan pada dahan dan rantingnya. Yang saya maksud dengan batang pohon itu adalah hakikat sumber kekuatan yaitu Allah Swt.

_"Katakan!! Wahai Allah yang memiliki Kerajaan, Engkau memberikan Kerajaan pada orang yang Engkau kehendaki. Engkau yang mencabut Kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Dan Engkau yang mengagungkan orang yang Engkau kehendaki.Dan Engkau yang merendahkan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah kebaikan itu. Engkau berkuasa pada segala sesuatu."_

Wallahu A'lam bishshowab.

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 172*

                   ﺍﻟﻔﺎﻗَﺎﺕُ ﺑُﺴُﻂُ ﺍﻟﻤَﻮَﺍﻫبِ

Artinya:
“Berbagai macam ujian bala’ (yang manjadikan engkau merasa fakir) itu, bagaikan hamparan (alas) untuk hidangan pemberian dan karunia dari Alloh.”

*_Syarh:_*

💎 Musibah yang mengingatkan seseorang akan kefakirannya akan menuntun dia kepada kedekatannya kepada Allah SWT berupa penghambaan diri, memelas kepada Allah meminta rahmat dan keselamatan. Seseorang yang meminta kepada Allah dengan mengedepankan kefakirannya dan kebutuhannya, maka Allah akan mengabulkan doanya, memberikan permintaannya serta memberikan pemberian yang tidak ada batasnya.

Sebagaimana badan ini tidak bisa hidup tanpa ruh, begitu juga ibadah tidak bisa hidup tanpa ruhnya. Ruhnya ibadah adalah "ubudiyah". Ubudiyah ini timbulnya dari kerendahan diri yang hakiki kepada Allah SWT. Dan kerendahan diri ini timbulnya karena perasaan butuh dalam segala hal kepada Allah SWT.

Kebanyakan manusia biasanya lupa akan penghambaannya kepada Allah SWT, ketika dia bergelimpangan dalam kenikmatan. Maka di sini pentingnya musibah untuk mengingatkan dia akan kefakirannya kepada Allah SWT. Perasaan ini yang dinamakan ubudiyah dan ini adalah ruhnya ibadah.

💎 Ketika kita melihat gambar-gambar keagamaan di masyarakat, maka kita akan melihat banyak gambar-gambar itu. Akan tetapi ketika kita melihat ke dalam ubudiyah yang berupa perendahan diri dan kehinaan diri di depan Allah SWT, maka kita akan melihat gambar yang banyak itu menjadi sedikit dan semakin sedikit, sehingga yang ada cuma golongan kecil dari orang-orang "Al Ghuroba" ( orang asing).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang "Al Ghuroba".

*Syarh tambahan*

Musibah yang menjadikan seseorang merasakan kefakirannya kepada Allah SWT, maka musibah ini akan mengantarkannya kepada kedekatan dengan Allah SWT.

Sebagaimana jasad yang tidak bisa hidup tanpa ruh, begitu juga "ibadah" tidak bisa hidup tanpa ruhnya dan ruhnya ibadah adalah "ubudiyah". Yaitu merendahkan diri yang hakiki di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

_Merendahkan diri dihadapan Allah Swt ini bisa timbul karena perasaan hina, lemah, dan fakir (butuh) kepada Allah SWT._

Biasanya manusia lupa akan kelemahannya dan kefakirannya ketika dia mendapatkan kenikmatan-kenikmatan yang banyak. Maka di sini pentingnya peran musibah untuk mengingatkan akan kelemahannya. Perasaan kelemahannya ini dinamakan "Ubudiyah" yang menjadi ruh dari ibadah yang dilakukan oleh anggota badan kita.

Wallahu A'lam Bissowab.

SUARA NAHDLIYYIN:
🕋 *KAJIAN KITAB AL HIKAM* 🕋

*_Oleh: KH. A. Wafi Maimoen_*

*Hikmah 245*

ﺩﻝ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺁﺛﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﻭﺑﻮﺟﻮﺩ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﻋﻠﻰ ﺛﺒﻮﺕ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻭﺑﺜﺒﻮﺕ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺫﺍﺗﻪ ﺇﺫﺍ ﻣﺤﺎﻝ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﻮﺻﻒ ﺑﻨﻔﺴﻪ . ﻓﺄﺭﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﺬﺏ ﻳﻜﺸﻒ ﻟﻬﻢ ﻋﻦ ﻛﻤﺎﻝ ﺫﺍﺗﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺩﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﻮﺩ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺟﻌﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﻌﻠﻖ ﺑﺄﺳﻤﺎﺋﻪ ﺛﻢ ﻳﺮﺩﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﻮﺩ ﺁﺛﺎﺭﻩ . ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻋﻜﺲ ﻫﺬﺍ ﻓﻨﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﺠﺬﻭﺑﻴﻦ ﻭﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺠﺬﻭﺑﻴﻦ . ﻟﻜﻦ ﻻ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﺮﺑﻤﺎ ﺍﻟﺘﻘﻴﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺗﺮﻗﻴﻪ ﻭﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺗﺪﻟﻴﻪ

Artinya:
Allah menunjukkan dengan wujud  ciptaanNya akan wujud namaNya. Allah menunjukkan dengan wujud asmaNya akan sifat-sifatNya. Allah menunjukan dengan wujud sifat-sifatNya akan wujud dzatNya, karena mustahil sifat itu berdiri dengan sendirinya. Allah membukakan kepada wali-wali _majdzub_ akan kesempurnaan DzatNya. Lalu mengembalikan mereka untuk melihat sifat-sifatNya. Adapun _salikin_  sebaliknya mereka ini. Maka akhir maqomnya salikin adalah permulaan maqomnya wali-wali _majdzub_, dan permulaan maqomnya salikin adalah akhir maqomnya wali-wali _majdzub_, akan tetapi bukan dengan arti yang satu, mereka berdua bisa bertemu dalam satu jalan. Ini (salikin) dalam naiknya dan itu (majdzubin) dalam turunnya.

*_Syarh:_*

Hamba Allah yang diberikan _kema'rifatan_ kepada Allah itu ada dua golongan,

*1. _Al Majdzubin_*, yakni golongan yang berpindah dari menyaksikan keagungan Allah menuju menyaksikan ciptaan Allah.

*2. _As Salikin_*, yakni golongan yang berpindah dari menyaksikan ciptaan Allah menuju menyaksikan keagungan Allah Ta'ala.

الله بجتبي اليه من يشاء ويهدي اليه من ينيب

_"Ijtiba"_ (الله يجتبي ) isyaroh pada orang _majdzubin_, golongan ini khusus dan sedikit.
_"Al-Hidayah"_ (ويهدي) isyaroh pada orang _salikin_. Kebanyakan washilin dari golongan ini.

Salikin bisa mendapatkan _ma'rifatullah_ dengan cara mengangan-angan ciptaan Allah Ta'ala. Ketika dia melihat ciptaan Allah ini penuh dengan keindahan dan hikmah maka dia mengetahui bahwa di balik penciptaan ini ada Dzat yang dinamakan Sang Pengatur. Lalu salik ini meneruskan angan-angannya bahwasanya Sang Pengatur ini tidak mungkin kecuali mempunyai sifat-sifat kesempurnaan seperti sifat _'Ilmu, Qudroh, Irodat, Hayat_, dan seterusnya. Ketika dia meneruskan pemikirannya maka dia akan berkesimpulan bahwasanya sifat itu tidak mungkin berdiri dengan sendirinya, pasti membutuhkan Dzat, yaitu Allah Ta'ala.

Adapun wali-wali _majdzub_ tidak melalui proses yang seperti ini, akan tetapi sebaliknya, mereka pindah dari kelalaiannya menuju _ma'rifatullah_ dengan tanpa proses menggunakan akal dan ilmiah dan tidak perlu menyaksikan ciptaan-ciptaan Allah SWT.

Wallahu A'lam Bisshowab.